Taat kepada Pemerintah di Tengah Gelombang Ketidakpuasan

Taat kepada Pemerintah di Tengah Gelombang Ketidakpuasan
19 June 2026 Updated: 19 June 2026

Di era media sosial saat ini, kritik terhadap pemerintah dapat ditemukan lebih cepat daripada mencari tempat parkir di pusat kota. Baru membuka gawai pagi hari, kita sudah disambut berbagai keluhan: harga naik, jalan rusak, pelayanan lambat, hingga isu-isu politik yang seolah tidak pernah habis.

Sebagian kritik tentu lahir dari kepedulian. Namun tidak sedikit yang berubah menjadi caci maki, fitnah, bahkan ajakan untuk membenci seluruh institusi negara. Di tengah kondisi seperti ini, umat Islam perlu kembali bertanya: bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan hubungan antara rakyat dan pemerintah?

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. An-Nisa: 59)

Ayat ini menjadi landasan penting bahwa Islam mengajarkan adanya ketaatan kepada pemimpin. Menariknya, para ulama menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin bukan karena mereka selalu benar, melainkan karena stabilitas masyarakat membutuhkan kepemimpinan.

Bayangkan sebuah kapal besar yang membawa jutaan penumpang. Jika setiap orang ingin menjadi nakhoda, kapal itu tidak akan pernah sampai tujuan. Bahkan mungkin tenggelam sebelum meninggalkan pelabuhan.

Namun Islam juga tidak mengajarkan ketaatan buta. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah." (HR. Ahmad)

Artinya, selama kebijakan pemerintah tidak memerintahkan kemaksiatan, maka umat Islam diperintahkan untuk menjaga ketertiban dan menaati aturan yang berlaku.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap ketaatan berarti tidak boleh mengkritik pemerintah. Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa para sahabat tetap memberikan nasihat kepada para pemimpin.

Yang membedakan adalah caranya.

Hari ini, sebagian orang lebih bersemangat membuat status marah-marah daripada mencari solusi. Bahkan ada yang setiap pagi sarapannya kopi, siangnya nasi, malamnya kritik pemerintah. Seolah-olah jika sehari tidak mengeluh, ada yang kurang dalam hidupnya.

Padahal kritik yang baik bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah ia melakukannya secara terang-terangan..." (HR. Ahmad)

Hadis ini mengajarkan pentingnya adab dalam menyampaikan masukan. Kritik boleh, tetapi harus bertujuan memperbaiki keadaan, bukan menebar kebencian.

Tantangan terbesar saat ini bukan hanya masalah ekonomi atau politik, tetapi derasnya arus informasi.

Banyak orang lebih cepat membagikan berita daripada membacanya. Bahkan terkadang judul saja belum selesai dibaca, tautan sudah dikirim ke lima grup WhatsApp.

Allah SWT telah mengingatkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini sangat relevan di era digital. Jangan sampai semangat membela kebenaran justru membuat kita menjadi penyebar informasi yang belum tentu benar.

Fitnah dan hoaks bukan hanya merusak reputasi seseorang, tetapi juga dapat mengguncang stabilitas masyarakat.

Sering kali kita berharap memiliki pemimpin yang ideal, jujur, amanah, dan peduli rakyat. Harapan itu tentu baik. Namun kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi warga negara yang baik?

Apakah kita sudah tertib berlalu lintas?

Apakah kita sudah membayar kewajiban dengan jujur?

Apakah kita sudah menjaga persatuan di lingkungan sekitar?

Mudah bagi kita menuntut perubahan dari atas. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari bawah, dari individu-individu yang memperbaiki dirinya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Indonesia adalah rumah besar bagi ratusan juta penduduk dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan pandangan politik adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi permusuhan.

Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pendapat, bahkan berbeda kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun jangan sampai perbedaan itu menghilangkan ukhuwah dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Negara ini tidak akan maju hanya dengan pujian, tetapi juga tidak akan maju dengan kebencian.

Ia membutuhkan kritik yang konstruktif, doa yang tulus, kerja yang nyata, dan masyarakat yang dewasa dalam menyikapi setiap persoalan.

Taat kepada pemerintah bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Sebaliknya, ia adalah sikap menjaga ketertiban sambil terus mendorong perbaikan melalui cara-cara yang bermartabat.

Islam mengajarkan keseimbangan: taat dalam perkara yang ma'ruf, mengingatkan ketika ada kekeliruan, serta menjaga persatuan di tengah berbagai perbedaan.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh kegaduhan, mungkin bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang mau berpikir jernih daripada berteriak keras, lebih banyak yang menawarkan solusi daripada sekadar menyalahkan.

Karena pada akhirnya, membangun negeri bukan pekerjaan satu orang, satu kelompok, atau satu pemerintahan. Ia adalah tanggung jawab kita bersama.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin kita menuju keadilan, memberikan kesabaran kepada rakyatnya, serta menjaga negeri ini dalam keberkahan dan persatuan.

Aamiin.

D'Win